Senin, 09 Februari 2015

Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu, begitulah istilah yang begitu sering kita dengar, hal ini berbicara tentang apa yang kita bicarakan itu terkadang bisa mengancam diri kita sendiri.
Kita belajar dari sebuah kisah nyata yang satu ini, nama dalam cerita ini disamarkan, karena tujuan cerita ini bukan untuk menghakimi kehidupan orang tersebut, tetapi untuk kita mengambil hikmah agar kehidupan kita menjadi lebih baik.

Sebut saja namanya Rusdi, Rusdi adalah seorang pengusaha keramik besar di salah satu kota besar di jawa timur. Rusdi menjadi agen besar yang memberikan pasokan ke suplier suplier di kota tersebut. Suatu hari adalah juga bos mebel bangunan bernama Rista, dia berhutang keramik satu truk kepada Rusdi dengan nilai kurang lebih empat puluh juta rupiah. Namun ternyata selama beberapa bulan bisnis Rista mengalami pasang surut. Oleh sebab itu Rista belum sanggup melunasi hutang hutangnya.

Suati hari Rusdi datang menghampiri toko Rista, dan saat itu Rista tidak berada di tempat. Rusdi menagih hutang Rista kepada anak buah Rista di toko tersebut dengan marah-marah.
Setelah beberapa waktu lamanya, Rusdi berulangkali menagih ke toko dan tak kunjung mendapatkan kembali uangnya. Sampai suatu ketika Rusdi datang ke toko Rista, dan memaki maki anak buahnya Rista. Saat itu dengan nada mengancam, Rusdi sempat mengucap kata akan menghabisi nyawa bosnya bila tak kunjung membayar hutang ujar dia kepada anak buah Rista.

Hingga setelah itu sampailah berita itu ke Rista. Rista yang belum sanggup membayar hutang karena bisnisnya sedang sepi itu panik karena ancaman tersebut dan menghubungi suaminya. Akhirnya Rista dan suaminya sepakat untuk menghabisi Rudi terlebih dahulu. Lalu suami Rista bersama teman-temannya menculik Rusdi dan menyiksanya. Belum puas menyiksa Rusdi, mereka memeras isi rekening Rusdi dengan memaksa Rusdi agar memberikan nomor pin ATM nya. Setelah menguras uang tersebut, agar menghindari Rusdi melapor dan membalas dendam, akhirnya Rusdi pun di bunuh dan mayatnya dibuang.

Namun polisi dengan cepat mengungkap kasus tersebut, dan tersangka yang ingin melarikan diri ke luar pulau segera tertangkap. Para pelaku ini dijerat undang-undang pembunuhan berencana dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Dari kisah tadi, kita melihat bahwa sebenarnya bisa saja Rusdi berkata kasar demikian karena luapan emosi yang jengkel, dan mungkin kita juga terkadang sering kali melakukan hal yang sama. Namun, tanpa kita sadari segala hal yang keluar dari mulut kita, itu akan masuk ke telinga orang lain, dan orang lain akan memberikan respon terhadap itu.

Apabila perkataan baik, pasti respon baik pula yang di dapat. Namun apabila perkataan tidak baik, bisa jadi respon yang tidak baik juga yang kita terima, apalagi bila respon tidak baik itu secara berlebihan seperti tindakan kriminalitas seperti kisah tadi, yang rugi siapa? Pasti anda sendiri kan?
Oleh sebab itu, ada baiknya apabila kita emosi lebih baik berdiam diri dan introspeksi diri terlebih dahulu. Pikir baik-baik apa yang akan anda katakan sebelum itu keluar dari mulut anda, karena setiap perkataan itu tidak bisa anda tarik kembali. Ada baiknya bila kita menjadi tenang terlebih dahulu sebelum kita berbicara, agar perkataan yang keluar dari mulut kita ini adalah perkataan yang bijak. Sehingga tidak menyakiti orang lain, tetapi memberikan ketenangan dan kebahagiaan juga bagi orang lain.

"Semoga kisah ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua, hidup ini terus berjalan seiring dengan waktu, kegagalan adalah proses menuju kesuksesan, namun keberhasilan juga bisa hilang ditelan masa. Satu hal yang pasti nilai hidup seseorang itu bagaikan judul buku yang bilamana akan susah diberikan ketika jalan cerita di buku tersebut belum berakhir, maka hargailah sebuah proses kehidupan.." ~ JAF ~
Sumber : Koran

Bagikan

Jangan lewatkan

Mulutmu Harimaumu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Silahkan tulis komentar anda dengan cerdas, sopan dan mudah dipahami. Terimakasih :)