Jumat, 23 Januari 2015

Bagai Air Susu Dibalas Air Tuba

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, namun nama pemeran dalam cerita ini disamarkan, karena tujuan utamanya agar kita belajar dari kisah hidup orang lain dan bukan untuk menilai orang lain. 

Suatu hari ada seorang juragan sapi bernama Rusdi, Rusdi mempekerjakan Abdul untuk membantu Rusdi mengurus sapi sapinya. Abdul memiliki anak bernama Dedi, yang pada waktu itu usianya masih 10 tahun. Abdul telah lama bekerja pada Rusdi dan suatu hari Abdul berhenti, pamit dari pekerjaan dan berniat untuk membuka usaha sendiri.

Setelah bertahun tahun lamanya, Dedi telah beranjak dewasa dan telah menikah. Dari pernikahan mereka dikaruniai seorang anak laki laki. Namun seiring berjalannya waktu pernikahan Dedi tidak berjalan dengan mulus. Seringkali terjadi pertengkaran di dalam rumah tangga dikarenakan istrinya marah marah karena Dedi kerap pulang larut malam. Dedi sendiri bekerja sebagai supir untuk mengantar gas.

Satu tahun kemudian kontrak kerja Dedi habis dan tidak diperpanjang oleh perusahaan. Dedi yang mengganggur membuat pertengkaran rumah tangga semakin menjadi jadi. Sampai suatu ketika istrinya Dedi meminta cerai setelah sekian lama tidak akur dan juga karena faktor ekonomi. Dedi akhirnya bercerai dengan istrinya, setelah bercerai Dedi kembali kerumah orang tuanya. 

Sekembalinya Dedi kerumah orang tuanya, Dedi masih menganggur dan malas mencari pekeejaan. Suatu hari dia datang ke rumah Rusdi untuk meminjam uang. Saat itu Rusdi tidak ada dirumah, namun hanya ada anaknya Boni. Akhirnya Boni meminjamkan Dedi uang seratus ribu rupiah. Saat itu Dedi berkata uangnya dipakai untuk ongkos berangkat ke proyek.

Beberapa minggu kemudian Dedi kerap kembali ke rumah Rusdi mantan majikan orang tuanya, bukannya untuk mengembalikan uang namun Dedi malah ingin meminjam uang kembali.
Sampai suatu hari di rumah Abdul, terjadi pertengkaran ketika Dedi ingin pergi keluar. Abdul menegur Dedi karena hobinya yang keluar jalan jalan dan tidak mencari pekerjaan. Akhirnya Abdul mengusir Dedi dari rumah.

Setelah di usir Dedi menyewa sebuah kos kosan, dan suatu malam dia terpikir untuk merampok rumah Rusdi. Lalu di suatu malam Dedi melakukan aksinya, dia memasuki rumah melalui pintu belakang dan masuk ke kamar. Istri Rusdi yang sudah lanjut usia adalah orang pertama yang mengetahui kejadian tersebut, ketika ingin berteriak, Dedi lalu memukul kepala istri Rusdi sampai pingsan.

Mendengar ada keributan Rusdi terbangun, lalu karena Dedi panik akhirnya Dedi membunuh Rusdi dan melarikan diri dengan membawa uang dan perhiasan. Istri Rusdi yang sekarat dibawa kerumah sakit dan mengalami hilang ingatan karena selain usia yang sudah tua juga faktor kerasnya hantaman di bagian kepala. Satu minggu buron akhirnya Dedi tertangkap oleh polisi, uang hasil rampokan pun hanya habis untuk main perempuan dan foya foya, yang tersisa sekarang hanyalah menghabiskan hidup dibalik jeruji besi.

Betapa malunya Abdul yang dulu sering dibantu oleh Rusdi dalam hal keuangan namun kini anak kandungnya sendiri membunuh mantan majikannya itu dengan cara yang sadis.

PELAJARAN PENTING

Bisa kita ambil hikmah dari kejadian tersebut,  bahwa uang bukanlah segalanya, uang bisa habis dalam sekejap walau bukan berarti manusia tidak butuh uang. Kalau kita hidup dengan benar dan amanah, saya yakin bahwa rejeki ga akan kemana mana. Pada dasarnya Tuhan memberikan rejeki kepada setiap orang itu pasti cukup. Oleh sebab itu yang perlu kita lakukan hanyalah bekerja dengan benar dan tekun, lalu pergunakan rejeki tersebut dengan bijak pula.

Jangan lupa untuk berhati hati dengan orang. Ada waktu untuk memberi, ada waktu untuk menahan. Kita juga harus bisa membaca situasi, jangan sampai kebaikan kita menjadi didikan yang buruk bagi orang lain. Ibarat dikasih hati minta jantung, karena pada dasarnya sifat manusia tidak akan pernah bisa puas. Daripada memberikan orang lain uang terus menerus, alangkah baiknya bila kita juga sekali kali menggantinya dengan memberikan pekerjaan atau memberikan ilmu. Karena ada pepatah uang akan habis dimakan waktu, tetapi ilmu akan tetap berguna walau sampai kita mati nanti.

"Semoga kisah ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua, hidup ini terus berjalan seiring dengan waktu, kegagalan adalah proses menuju kesuksesan, namun keberhasilan juga bisa hilang ditelan masa. Satu hal yang pasti nilai hidup seseorang itu bagaikan judul buku yang bilamana akan susah diberikan ketika jalan cerita di buku tersebut belum berakhir, maka hargailah sebuah proses kehidupan.." ~ JAF ~

Sumber Cerita : Harta Tahta Wanita (TransTV)

Bagikan

Jangan lewatkan

Bagai Air Susu Dibalas Air Tuba
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Silahkan tulis komentar anda dengan cerdas, sopan dan mudah dipahami. Terimakasih :)