Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Saturday, May 3, 2025

Kontroversi Konten Rendang 200kg Yang Hilang, Bikin Warga Palembang Geram ?

Beberapa hari terakhir ini, seorang Konten kreator TikTok bernama Willie Salim, menjadi sorotan publik setelah membuat konten memasak 200 kilogram rendang di Palembang, Sumatera Selatan. Konten tersebut menuai kontroversi karena rendang yang sedang dimasak dilaporkan hilang saat Willie meninggalkan lokasi untuk ke toilet. Berikut adalah kronologi lengkap kejadian tersebut beserta tanggapan dari berbagai tokoh yang mengecam tindakan tersebut.

Pada Selasa, 18 Maret 2025, Willie Salim mengadakan acara memasak 200 kilogram rendang di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang. Acara ini dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan direncanakan sebagai kegiatan berbagi di bulan Ramadan. Selama proses memasak, Willie meninggalkan lokasi untuk pergi ke toilet. Saat kembali, ia mendapati rendang yang sedang dimasak telah habis diambil oleh warga yang berkerumun di sekitar lokasi dalam waktu singkat.

Setelah insiden hilangnya rendang, beberapa pihak memberikan penjelasan tambahan. Rino, salah satu anggota tim Willie, menyatakan bahwa saat Willie meninggalkan lokasi untuk ke toilet, banyak warga yang mulai mengambil rendang yang belum matang dari kuali yang masih panas. Meskipun telah diimbau, jumlah warga yang banyak membuat situasi sulit dikendalikan. Selain itu, lampu penerangan di lokasi mati saat waktu Isya, yang semakin mempersulit pengawasan. ?

Insiden ini memicu berbagai reaksi dari tokoh-tokoh publik dan masyarakat, diantaranya.

Helmy Yahya, Ketua Asosiasi Konten Kreator Seluruh Indonesia (AKKSI), mengkritik keras tindakan Willie. Ia menyayangkan narasi yang dibuat Willie karena dianggap memberikan citra negatif pada warga Palembang. Helmy menegaskan bahwa kreativitas dalam membuat konten tidak seharusnya menyakiti banyak orang.

Bobon Santoso, seorang kreator kuliner, juga menyoroti kejanggalan dalam konten tersebut. Ia mempertanyakan mengapa rendang dimasak dalam jumlah besar tanpa pengamanan yang memadai dan mengapa Willie meninggalkan masakan tersebut tanpa pengawasan. ?

Ratu Dewa, Wali Kota Palembang, meminta Willie untuk memberikan klarifikasi terkait insiden tersebut. Ia menekankan pentingnya tabayun agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat berdampak negatif pada masyarakat. ?

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyatakan kekecewaannya terhadap konten yang dibuat oleh Willie Salim. Ia menilai bahwa aksi tersebut mencoreng citra baik Palembang dan menduga situasi tersebut sengaja diciptakan untuk mendapatkan perhatian publik. Herman Deru menegaskan bahwa nama baik Palembang tidak seharusnya dirusak hanya karena insiden tersebut.

Menanggapi kontroversi yang berkembang, Willie Salim mengunggah video permintaan maaf. Ia menyatakan bahwa kejadian tersebut bukanlah settingan dan mengakui kesalahannya dalam kurangnya persiapan dan pengamanan selama acara. Willie juga telah menemui Helmy Yahya secara langsung untuk meminta maaf dan menjelaskan situasi yang terjadi.

Willie Salim menegaskan bahwa insiden tersebut bukanlah rekayasa atau gimik. Ia mengakui bahwa persiapan yang kurang matang menjadi penyebab utama kejadian tersebut dan meminta maaf kepada seluruh warga Palembang yang merasa tersakiti akibat insiden ini. Willie juga menekankan bahwa tidak ada niat untuk mencoreng nama baik Palembang dan berharap kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Kontroversi yang ditimbulkan oleh konten memasak rendang 200 kilogram oleh Willie Salim menyoroti pentingnya tanggung jawab dalam pembuatan konten publik. Kreativitas seharusnya tidak merugikan atau memberikan citra negatif pada komunitas tertentu. Kasus ini menjadi pembelajaran bagi para konten kreator untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan dampak dari konten yang mereka buat terhadap masyarakat luas.

Bagi saya pribadi dalam menanggapi hal ini, ada beberapa poin penting yang perlu di garisbawahi. Yang pertama, memang dari segi pengamanan saya lihat di konten tersebut memang masih sangat kurang persiapan. Karena memasak dalam jumlah yang begitu besar memang memiliki resiko yang lumayan besar, meskipun sebenarnya masih bisa kita maklumi karena Willie juga masih tergolong baru dalam membuat tipe konten seperti itu, berbeda dengan Bobon Santoso yang selama ini sudah memiliki jam terbang tinggi dalam memasak makanan dalam jumlah besar.

Yang kedua, cara mengemas konten yang menurut saya seharusnya bisa menjadi lebih asik dan seru, bukan alih-alih menjadi stigma negatif dengan menambahkan bahasa-bahasa seperti "rendang hilang" yang membuat seakan-akan ada yang maling atau terjadi tindakan yang tidak baik. Karena saya yakin pasti respon dan ceritanya akan berbeda apabila membawa judul yang lebih positif seperti, "daging habis ludes karena antusias warga yang luar biasa". Tetapi tentu saja bagi konten kreator, judul seperti ini kurang clickbait.

Tetapi satu hal yang pasti, konten ini menjadi pelajaran yang baik bagi para setiap konten kreator untuk lebih berhati-hati dalam membuat konten. Meskipun ada pihak yang melaporkan kejadian ini ke polisi, namun bagi saya hal ini sangat disayangkan, karena sebenarnya hal ini dimulai dari keinginan untuk berbagi dan itu adalah hal yang baik. Bagi saya pribadi kecaman masyarakat sudah menjadi pelajaran yang sangat cukup, tidak perlu sampai ke ranah hukum dan Willie harus take down konten dia sesegera mungkin.

Saya juga berharap dengan permintaan maaf dan klarifikasi yang Willie lakukan bisa diterima oleh masyarakat luas. Semoga kasus ini cepat selesai dan semoga Willie tetap semangat untuk berkarya melalui konten. Mari kita semua mengambil hikmah atas kejadian ini dan belajar untuk lebih baik di waktu yang akan datang.

Jadi apakah kalian punya opini berbeda terkait dengan hal ini? Silahkan tulis pendapat kalian di kolom komentar dan jangan lupa untuk share video ini.

Baca selengkapnya

Sunday, April 27, 2025

Kenapa Kebanyakan Kasus Korupsi Besar Malah Didominasi Orang Kaya?

Banyak orang mengira bahwa ujian terberat adalah kemiskinan. Namun ternyata ujian yang paling besar datang disaat kita kaya. Apakah kita mampu untuk tetap jujur dan amanah? Ataukah malah tambah serakah?

Selama ini beberapa statement sebagian orang di pemerintahan ingin meningkatkan gaji pejabat supaya mengurangi praktik korupsi. Namun apakah kamu sadar, selama ini praktik korupsi yang besar umumnya malah didominasi dari orang-orang yang sebenarnya sudah kaya. Namun apa yang sebenarnya membuat mereka tetap melakukan tindak pidana korupsi?

Saya rasa korupsi tidak selalu berbanding lurus dengan kemiskinan individu, namun ada faktor psikologi lain yang mempengaruhi hal ini. Korupsi di kalangan orang kaya sering terjadi karena beberapa alasan psikologis, sosial, dan struktural.

1. Keserakahan dan Ketamakan
Banyak orang yang sudah kaya tetap ingin lebih kaya lagi, bahkan jika itu berarti melanggar hukum. Kekayaan yang besar sering kali tidak menghilangkan keinginan untuk mendapatkan lebih banyak.

2. Peluang dan Kekuasaan
Orang kaya, terutama yang punya jabatan atau kekuasaan, memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan korupsi. Mereka mengendalikan sumber daya, proyek, atau kebijakan yang bisa dimanipulasi untuk keuntungan pribadi.

3. Rasa Tidak Pernah Cukup
Ada fenomena psikologis di mana semakin banyak seseorang memiliki, semakin besar pula keinginannya untuk memiliki lebih. Ini bisa menjadi kecanduan, di mana mereka terus mencari cara untuk memperbesar harta dan kekuasaan mereka.

4. Lingkungan yang Mendukung
Di kalangan elit, korupsi bisa dianggap sebagai sesuatu yang "biasa" atau "tradisi". Jika orang-orang di sekitar mereka juga korup, maka perilaku itu dianggap wajar.

5. Merasa Kebal Hukum
Orang kaya sering kali memiliki akses ke pengacara hebat, koneksi politik, dan kekuatan finansial yang bisa digunakan untuk menghindari hukuman. Ini membuat mereka merasa lebih berani melakukan korupsi.

6. Standar Hidup yang Tinggi
Setelah terbiasa dengan gaya hidup mewah, mereka merasa harus mempertahankannya, bahkan jika itu berarti melakukan korupsi.

Jadi, bukan karena mereka membutuhkan uang, tetapi karena dorongan untuk lebih banyak, kekuasaan yang mereka miliki, serta sistem yang memungkinkan mereka lolos dari konsekuensi.

Menurut kamu, apakah ada hal lain yang menjadi faktor penentu kenapa orang bisa korupsi? ????

Baca selengkapnya

Monday, March 31, 2025

Naik Gaji Bukan Solusi Untuk Korupsi !

Saya heran kalau mendengar visi seorang calon pemimpin yang ingin memberantas korupsi dengan solusi utama ya adalah dengan fokus menaikan gaji. Saya rasa ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di lingkungan kerja selama ini.

Selama saya bekerja di beberapa perusahaan, tidak banyak tindakan korupsi yang saya temui di perusahaan perusahaan kecil dan menengah, justru korupsi lebih banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar dengan gaji yang lebih baik, untuk posisi-posisi tertentu.

Mungkin sudah bukan menjadi rahasia juga apabila jabatan-jabatan tinggi di BUMN dan juga di DPR, serta kementrian pada umumnya sangat rentan dengan tindak pidana korupsi. Pernahkah dalam satu tahun saja, tidak ada satupun berita orang yang tertangkap korupsi dari beberapa tempat kerja yang saya sebutkan tadi? Padahal secara gaji mereka mendapatkan gaji dan tunjangan yang sangat tinggi. Lalu apakah menaikan gaji masih relevan dengan solusi untuk mengurangi angka korupsi di Indonesia?

Memang tidak mudah dalam memberantas budaya korupsi yang sudah sangat mengakar di Indonesia, tetapi saya merasa undang-undang perampasan aset dan pembatasan uang tunai harus segera disahkan. Karena umumnya orang yang korupsi tidak takut masuk penjara, tetapi lebih takut untuk menjadi miskin. Mereka akan lebih berani mengambil resiko masuk penjara agar bisa bebas dengan tetap menjadi orang kaya dan keluarga mereka berkecukupan. Tapi kalau undang-undang perampasan aset diberlakukan, apakah masih berani mereka berpikir demikian?

Namun saya kira undang-undang ini akan sangat sulit untuk diberlakukan, mengingat hingga saat ini belum ada satu partai pun di pemerintahaan yang berani dengan lantang untuk menyerukan undang-undang perampasan aset dan pembatasan uang. Hal ini tentu menjadi tanda tanya yang besar bagi kita semua, apakah mereka yang selama ini mengaku sebagai wakil rakyat adalah orang-orang yang bersih?

Padahal dengan menjalankan peraturan ini kita bisa memberantas korupsi dengan lebih efektif dan bisa meningkatkan potensi ekonomi Indonesia dengan lebih baik lagi. Semoga saja di masa depan kita bisa mendapatkan para pemimpin yang bersih dan berani untuk ambil resiko demi kebaikan bangsa Indonesia kita tercinta.
Baca selengkapnya

Thursday, July 19, 2018

Habitat Rusa Masa Kini

Dahulu rusa pernah menjadi salah satu hewan dengan populasi terbanyak di muka bumi ini, kemampuan bertahan hidup dan cepat beradaptasi menjadi salah satu keunggulan rusa. Biasanya hewan ini cenderung hidup berkelompok, bulu rusa yang kering dan kaku membuat hewan ini tidak terlalu bau sehingga seringkali lolos dari para predator yang mengandalkan penciuman dalam memangsa korbannya.

Seiring perjalanan waktu, perburuan rusa semakin menjadi jadi. Dagingnya yang enak untuk dikonsumsi dan tanduknya seringkali dijadikan pajangan di rumah, bahkan diperjualbelikan dengan harga yang sangat mahal. Hal inilah yang membuat populasi rusa menurun dengan drastis.

Dengan mulai terancamnya populasi rusa, beberapa negara mulai melarang perburuan hewan tersebut. Rusa yang merupakan jenis Cervus ini sendiri, termasuk jenis satwa yang dilindungi oleh pemerintah di negara Indonesia.

Berinteraksi langsung dengan para kawanan rusa ini memang sungguh sangat menyenangkan, mereka begitu ramah kepada setiap pengunjung. Tetapi meskipun terkadang hewan ini manja, kita tetap harus berhati hati dengan tanduknya yang tajam. Salam lestari.

Sumber : Instagram

***

Bagi kalian yang penasaran dengan lokasi foto gambar pada artikel kali ini, kalian bisa langsung simak video ulasanya berikut ini.


Baca selengkapnya

Saturday, September 23, 2017

Saat kamu emosi, ada baiknya untuk sesaat menahan diri dari sosmed

Helo good people ! Siapa sih diantara kamu yang ga pernah emosi? pastinya semua orang pernah dong? kalau ada yang ngakunya ga pernah, sini aku kerjain sampai jadi emosi.. Hahaha

Ketika seseorang berada dalam kondisi yang emosional, sebenarnya pikiran juga akan terpengaruh dan hati juga tidak akan terasa tenang, sehingga dalam posisi ini kita bisa dibilang lagi dalam keadaan yang labil. Oleh sebab itu ada baiknya bila dalam keadaan emosi, agar kita tidak mengambil suatu keputusan atau tindakan yang nantinya dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Begitu juga saat kita menggunakan sosmed, alangkah baiknya apabila kita membagikan sesuatu di sosmed itu dalam keadaan hati yang tenang dan bukan dalam suasana hati yang emosi, supaya konten yang kita bagikan nantinya bermanfaat dan menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi konten yang tidak bermanfaat dan menjadi sumber penyebar kebencian.

Sekarang kan lagi ngehits tuh kalau ada orang lagi berantem atau lagi adu mulut, bukannya diselesaikan baik baik tapi malah direkam dan di upload di sosmed sambil curhat-curhat, kadang ga cuma korban, kadang kali pelaku juga bisa melakukan hal yang sama, namun bukan dukungan yang didapat, melainkan hujatan dan cacimaki dari para netizen.. wkwkw..

Bukan berarti aku nulis begini karena ingin menghalang halangi orang lain untuk menyampaikan aspirasi, tapi jujur aja aku paling ga senang orang yang menghadapi permasalahan dnegan sikap yang tidak gentle, manja dan beraninya cari dukungan dari orang lain alias kroyokan. Aku lebih respect dengan orang yang menghadapi permasalahan dengan tenang, bijak dan tidak beraninya hanya ngomong di belakang saja.

Ngeshare permasalahan kamu di sosmed tidak akan menjadikan kamu dewasa dan tidak menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah yang baru. Meskipun harus aku akui bahwa beberapa masalah sosial dalam kasus tertentu bisa menemukan titik terang ketika itu di share ke publik dan menjadi viral, contohnya saja kasus pungli yang terbongkar atau ajakan donasi terhadap kaum disabilitas. Beberapa permasalahan tersebut memang layak untuk diangkat ke publik agar membawa perubahan bagi banyak orang, namun tidak sama dengan ngeshare masalah pribadi dengan curhatan yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

Jadi guys, ketika kamu lagi dalam kondisi yang emosional, ada baiknya bila menahan diri terlebih dahulu dari sosmed. Hadapi segala permasalahanmu dengan cara yang real, dengan berlapang dada dan belajar untuk mengambil hikmahnya dari setiap permasalahan yang ada dalam hidupmu. Yuk kita belajar untuk berbagi konten yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Salam generasi bersinar ! :)

Sumber : Joshua Favian
Baca selengkapnya

Wednesday, August 2, 2017

Lima jenis politik hitam tersakti di Indonesia dari masa ke masa demi kekuasaan

Jabatan yang tinggi sejatinya merupakan sebuah tanggung jawab untuk mengabdi, tidak hanya mencari kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Berbagai cara dilakukan para elit politik untuk bisa berkuasa dengan jurus pamungkasnya, baik itu jurus yang baik dan fair, atau dengan jurus yang tidak terpuji. Berikut jenis politik hitam di Indonesia demi meraih sebuah kekuasaan.

Politik Adu Domba
Mungkin jenis politik satu ini bisa dibilang yang tertua, seperti yang kita ketahui jaman dahulu penjajah sudah menggunakan politik adu domba untuk mendapatkan kekuasaan di Indonesia. Dengan memecah belah persatuan, mereka menjadi lebih mudah untuk melakukan ekspansi secara besar-besaran ke Indonesia saat itu.

Politik Uang
Uang adalah alat yang sangat sering digunakan seseorang untuk memperoleh kekuasaan. Membagi bagikan uang kepada suksesor atau orang lain demi mendapatkan dukungan untuk berkuasa adalah hal yang sangat umum terjadi walau kebiasaan ini sebenarnya sangatlah tidak benar. Hal inilah yang membuat seseorang yang berkuasa biasanya orang yang kaya, bilamana tidak kaya maka dia harus mencari dana pinjaman sehingga ketika terpilih nanti sang penguasa harus berpikir kembali gimana caranya untuk balik modal.

Politik Agama
Agama adalah suatu hal yang sakral dan sangat dihormati oleh banyak orang di Indonesia, bahkan bisa dibilang orang jahat sekalipun gentar bila mendengar istilah agama. Karena faktor ini juga membuat mind set seseorang kalau bisa hal apapun yang didasarkan atas nama agama harus selalu berkata "Yes". Karena itu, politik agama adalah senjata pamungkas bagi para elit politik untuk menyerang lawan politiknya yang agamanya berbeda dengan mayoritas penduduk setempat. Hal ini yang membuat putra atau putri terbaik Indonesia yang beragama Muslim tidak mampu menjadi pemimpin daerah di wilayah Papua, begitu juga dengan putra atau putri terbaik Indonesia yang beragama Kristen, tidak mampu menjadi pemimpin daerah di wilayah Aceh.

Politik Dinasti
Politik dinasti atau kerajaan adalah suatu istilah kiasan untuk kekuasaan yang dipegang secara turun temurun, baik dari suami yang menyiapkan istrinya kelak untuk menggantikan jabatannya atau seorang ayah yang menyiapkan anaknya untuk menggantikan jabatannya kelak. Tentu hal ini membuat seolah-olah pemerintahan hanyalah ibarat arisan keluarga dan sanak famili, kekuasaan dibagi bagi supaya dinasti tetap berdiri. Padahal masih banyak calon pemimpin berpotensi lainnya yang belum sempat unjuk gigi, karena pemilihan kepala daerah hanyalah sebatas arisan resmi.

Politik Pencitraan
Nama baik adalah aset bagi para calon pemimpin bangsa ini, oleh sebab itu diperlukan adanya pencitraan untuk mengambil hati masyarakat Indonesia supaya mendapatkan dukungan di pemilihan kepala daerah nantinya. Banyak hal yang mungkin kita tidak ketahui terjadi di balik layar media kaca, hal yang mungkin saja tidak seindah cerita cerita di media cetak dan hal yang mungkin bertolak belakang bisa saja terjadi di media sosial. Oleh sebab itu pers sangat berpengaruh dalam politik pencitraan masa kini, bagaimana sosok yang ingin didukung bisa terlihat menawan baik di surat kabar ataupun iklan. Tentu saja pencitraan yang berlebihan dan dibuat buat malah membuat orang lain menjadi muak, apalagi hanya mampu mengumbar janji-janji manis yang tak terbukti nanti.

Sumber : Joshua Favian
Baca selengkapnya

Saturday, May 13, 2017

Be Smart ! Tips mengindari provokasi di sosial media


Hey good people..! Apa kabar? Semoga sehat selalu dan semakin diberkati. Kali ini saya akan sharing tips untuk menghindari provokasi di sosial media. Yukssss lanjut.. kita awali dari kamus besar bahasa Indonesia, dalam kamus tersebut terdapat dua kata mengenai hal ini yaitu...

Provokasi /pro·vo·ka·si/ adalah perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan: tkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan.

Terprovokasi /ter·pro·vo·ka·si/ adalah terpancing atau terpengaruh untuk melakukan perbuatan negatif, misalnya perusakan: pengunjuk rasa sempat.

Nah dari dua hal ini tadi kita belajar, berarti dalam tindakan provokatif, ada yang namanya provokasi (orang yang suka menghasut) dan ada yang namanya terprovokasi (orang yang terhasut). Nahh dari dua hal ini tadi sering sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, dari jaman dahulu kala (masanya para nabi-nabi), jaman perang (masa Indonesia dijajah Belanda) dan jaman sekarang (era modern dan digitalisasi). 

Alasan mengapa masih banyak orang yang suka PROVOKASI?

  • Pengalihan isu, tentu saja hal ini bisa terjadi, tindakan provokasi bisa dijadikan alat pengalihan isu yang sangat-sangat membantu, agar orang lain lupa atau tidak fokus dengan apa yang sedang terjadi.
  • Politik adu domba, kalau kita baca sejarah tentang para nabi-nabi, tindakan provokasi sudah ada dari jaman dahulu kala, tujuannya sama.. untuk menjatuhkan orang lain, dengan mengadunya dengan orang lain juga.. saat mereka lemah, maka disitulah sang provokator sudah menang tanpa bersusah payah.
  • Mengambil keuntungan pribadi, dari tindakan provokatif ini, sang provokator bisa mendapatkan keuntungan pribadi, apalagi di era modern ini. Masa sihhh? Ga percaya, coba kamu teliti berapa keuntungan dari pengelola website-website Hoax, berapa follower dari akun IG yang beritanya provokasi, berapa jumlah responden Twitter / Facebook yang setiap update status selalu kontroversial. Hmmm.. Udah kebayang belum? Emosi kalian itu cuma semata-mata dijadikan bahan untuk meningkatkan ketenaran nama atau traffic sosial media. Dengan meningkatnya jumlah responden, tentu akan lebih gampang nyari uang lewat iklan-iklan diposting setiap harinya. Yang rugi siapa? KITA. Yang untung siapa? MEREKA.
Alasan mengapa masih banyak orang yang suka TERPROVOKASI?


  • Kurangnya wawasan, hal ini tentu sangat mempengaruhi orang yang mudah diprovokasi karena orang yang kurang wawasan akan lebih polos dalam bertindak, dengan kata lain Cepat Berbicara Namun Lambat Berpikir. Nah wawasan ini dipengaruhi dari beberapa faktor, misalnya saja kualitas pendidikan, suka atau tidaknya membaca, kualitas pergaulan dan cara didik orang tua di rumah.
  • Kurangnya pergaulan, nahh.. untuk yang satu ini harusnya jangan sampai kamu alamin ya guys apalagi bagi kalian yang masih muda. Orang yang kurang pergaulan, secara psikologis hanya akan nyaman dengan teman-teman di dalam lingkarannya saja dan kurang mempelajari hal-hal yang baru, sehingga seringkali tanpa sadar selalu berpikir negatif tentang orang lain yang ada di luar lingkarannya atau zona nyamannya. Ciri-ciri orang yang kurang pergaulan, misalnya saja, lebih pendiam apabila berada di luar pergaulannya, namun aktif dan terkadang cenderung lebih berani saat berada di dalam lingkungan pergaulannya. Mudah menghakimi orang lain, tanpa terlebih dahulu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Susah untuk menerima kritik dan saran, hanya mau mendengarkan apa yang mau dia dengarkan saja.
  • Pahlawan kesiangan, yang satu ini biasanya paling banyak menjadi faktor mengapa orang masih sering kena provokasi. Masa sih? Yoii men.. Biasanya sih orang yang mudah terprovokasi ini orang yang sok pinter, sok mau jadi pahlawan dan ngerasa bahwa pendapatnya yang paling BENAR! Alih-alih menjadi seorang pahlawan bak Avengers, yang ada malah menjadi Patrick Star. Btw, tau Patrick Star ga? Iyaaaa.. itu tuh, temannya Spongebob yang sukanya ngomong ngawur, ga jelas dan malah kelihatan bego.. wkwkwk..
Okeee gaesss... bagaimana? apa sudah mulai ada bayangan apa kira-kira selama ini kalian ada diposisi mana? provokasi atau terprovokasi? Kalau kalian saat ini ada di posisi provokasi, gue saranin segera tobat deh, percuma loe hidup kalau hanya untuk provokasi karena ga ada gunanya bagi nusa dan bangsa ini #asek. Tapi kalau kalian ada di posisi terprovokasi, aku kasih beberapa tips untuk menghindari provokasi di sosial media.. Cekidotttt !


Tips menghindari provokasi di sosial media :
  • Cepat untuk berpikir dan lambat untuk bertindak. Setiap kalian menemui konten yang berisifat provokatif, jangan langsung direspon. Dibaca dulu, direnungkan baik-baik, ambil hal-hal yang positifnya dan abaikan hal-hal yang negatifnya. 
  • Respon dengan cara PINTAR. Namanya orang, ya bebas berpendapat, walau kadang ya pendapatnya ngawur. Tidak perlu emosi dan tidak perlu kamu balas caci-maki, karena setiap hal yang kontroversial pasti ada pro dan kontranya, kalau kamu mau meresponi semua hal itu baik dari pagi sampai malem sampai ketemu pagi lagi ya ga akan ada habisnya. Kalau menurut kamu postingan dari salah seorang teman di sosmed bersifat provokatif, maka yang perlu kamu lakukan cukup dengan klik fitur Report atau Laporkan, fitur ini biasanya pasti ada di setiap sosial media, dengan ini kamu bisa melaporkan konten orang tersebut sehingga nantinya konten tersebut atau akun yang bersangkutan akan diblokir apabila jumlah laporan untuk suatu konten tersebut banyak sehingga akan lebih cepat diproses oleh admin sosmed tersebut.
  • Filter beranda sosmed kamu. Sudah saatnya kamu mengisi beranda sosmed kamu dengan hal-hal yang positif, karena hal itu akan menjadi sumber energi positif juga hidup kamu, sehingga hidup kamu bisa menjadi lebih positif juga. Caranya bagaimana? Gampang! Blokir aja orang-orang yang suka ngirim konten-konten yang ga jelas, kontroversial atau memprovokasi. Ga ada salahnya ngeblokir temen di sosmed, karena bukan berarti kita memusuhi mereka di dunia nyata kan, namun kita memfilter diri kita sendiri dari hal yang tidak baik yang setiap harinya. Hal ini penting banget supaya kita tidak gampang terprovokasi karena pepatah bijak mengatakan, pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik.
  • Tidak perlu sok jagoan. Sudah bukan saatnya lagi mau sok-sokan jadi pahlawan dengan mengungkapkan pendapat dan merasa diri sendiri benar. Percuma gaesss.. kecuali kalian artis yang punya banyak followers.. Hahaha. Lebih baik bertindak nyata daripada sekedar omongan manis di sosmed, hal ini lebih berguna dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya saja, belajar untuk menghargai orang lain, menghargai waktu dan menghargai diri anda sendiri. Ramahlah dengan orang disekitar anda, belajarlah untuk terbuka (open minded) kepada setiap orang yang anda temui dan jangan bosan-bosan untuk menyebarkan kasih, kebaikan dan aura positif lainnya dimanapun anda berada, baik di lingkungan pergaulan atau dilingkungan kerja.
  • Membuka wawasan seluas-luasnya. Ga ada salahnya kamu untuk mulai belajar hal baru untuk memperluas wawasan, tapi tetap hal yang positif ya. Misalnya saja, sharing dengan orang-orang yang memiliki pengalaman lebih dari kamu. Membaca buku yang bersifat memotivasi, menginspirasi atau memberikan benefit bagi hidup kamu. Mulai belajar mengisi waktu luang kamu dengan konten-konten di sosmed yang bermanfaat. 
Nah, munkin untuk sementara ini sampai sini dulu sharingnya. Bila ada hal-hal yang kurang, nanti akan kembali saya tambahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.. Hahaha. Semoga saja, hal ini bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Bila menurut kamu artikel ini sudah memberikan dampak positif bagi hidup kamu, ga ada salahnya untuk share artikel ini ya, supaya orang lain juga merasakan hal yang sama. Bagi kamu yang punya gagasan lain, boleh ikutan share dengan cara komen di bawah ini. Oke, sekian dulu dan sampai jumpa di artikel selanjutnya ya.

Sumber :
Baca selengkapnya

Wednesday, May 3, 2017

Terminal Mengwi, Bali - Semua penumpang turun! teriak preman setempat

Beberapa hari yang lalu ( 29 April 2017 ) saya mengalami kejadian yang cukup mengejutkan dan mungkin akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Ceritanya bermula ketika aku pergi ke Bali untuk berlibur dan mencoba berpetualang ala Backpacker saya mencoba menggunakan jalur darat dari Kota Malang menggunakan kereta lalu dari stasiun naik bis yang berhenti di depan stasiun menunggu penumpang. Rencana saat itu aku mencari transportasi dari penyebrangan di Banyuwangi ke stasiun Ubung, Bali.

Lalu aku dan tiga orang rekanku saat itu bertemu dengan seorang kernet / calo bis saat itu, lalu mulailah percakapan kita saat itu.

Saya : Permisi pak, bis arah ke terminal Ubung apa tidak?
Kernet : Iya mas, untuk berapa orang?
Saya : Untuk 4 orang, berapa pak?
Kernet : 80 ribu mas..
Saya : 60 ribu aja ya pak, kan ber'empat ini..
Kernet : Tambahin 5 ribu wes mas..
Saya : Ok pak, 65 ribu ya..

Setelah nego-nego di depan akhirnya kita sepakat yang tarif dari lokasi itu ke terminal ubung yaitu sebesar 65 ribu rupiah. Naiklah aku saat itu ke atas bis dengan tulisan D*M*I, dengan warna cat bis berwarna biru dan terlihat seperti bis baru. "Keren juga ini bis, pasti perjalanan akan lancar dan nyaman.." pikirku saat itu karena melihat kondisi bis yang lebih terlihat baru daripada bis lainnya yang parkir menunggu penumpang saat itu.

ilustrasi bis
Tidak cermatnya aku dalam menggali informasi ketika traveling ternyata membawa aku ke pengalaman yang tidak terlupakan saat itu. Dari pelabuhan Ketapang - Banyuwangi, bis mulai berangkat menyebrangi laut menuju ke pelabuhan Gilimanuk - Bali. Memulai perjalanan dengan bis saat itu sekitar jam setengah satu dini hari. Ditengah perjalanan aku tertidur lelap, tibalah bis tersebut di terminal Mengwi di Kabupaten Badung, Bali. Dengan kondisi setengah sadar kira-kira pukul setengah 5 pagi, tiba-tiba aku terkejut saat itu tiga sampai empat orang berkaos hitam dengan tulisan "Transport" di dada sebelah kiri saat itu naik ke atas bis dan menyuruh semua penumpang untuk turun dari bis dan begini katanya.

Oknum : Semua penumpang diharap turun, ini terminal pemberhentian terakhir.
*karena rata-rata orang yang naik di bis tadi nego sama kernet turun di Ubung, jadi banyak yang tidak beranjang dari kursi duduk karena kita sadar disini bukanlah tujuan kita..
Oknum : Semuanya turun! ini sudah pemberhentian terakhir, ayo turun! *mulai menggertak
*sebagian penumpang akhirnya mulai turun, namun masih ada yang bingung dan diam di kursi
Oknum : Hei dengar apa tidak, cape ngomong berkali-kali.. Turun semua!
*akhirnya aku pun mulai turun bersama sisa penumpang lainnya, namun saat itu masih tersisa satu penumpang yang sepertinya juga orang lokal setempat masih duduk di kursi belakang
Oknum : Woi kamu yang di belakang punya telinga atau engga? Turun kamu! 
*saat itu aku lihat dua orang preman tersebut mulai mendekati pria tersebut, lelah dengan gertakan preman tersebut dan tidak ingin cari ribut, akhirnya dia ikut turun juga

Mungkin karena saat itu kondisiku baru terbangun dari tidur dan kaget akan kejadian tersebut, aku lupa untuk mengingat plat bis tersebut, lagipula mengeluarkan hp untuk merekam kejadian saat itu mungkin bukanlah suatu tindakan yang tepat di suasana mencekam saat itu. Anehnya saat kejadian itu berlangsung, kernet dan driver bis itu tadi tidak ada di tempat, lalu setelah para preman tersebut turun, kernet dan driver bis ini tadi naik dan meneruskan perjalanannya. Saya tidak paham apakah mereka ini sudah bersekongkol atau mereka sudah diancam preman setempat. Tidak lama kemudian, barulah aku sadar ternyata orang-orang ini tadi adalah seorang supir transportasi lainnya dari stasiun Mengwi dengan tujuan ke stasiun Ubung, Denpasar dan Kute setelah mereka menawarkan jasa transportasi tersebut kepadaku, rekan-rekanku dan para penumpang lainnya saat itu.

Dalam rombonganku saat itu terdapat seorang bapak yang tidak lagi muda, mengalami kejadian tersebut tentu membuatnya shock dan mengalami pusing berat. Akhirnya aku putuskan untuk kita ambil waktu istirahat sebentar duduk di terminal itu untuk mengumpulkan tenaga dan memulihkan kondisi kita yang cukup tegang pada saat itu. Saat kita istirahat para supir yang bergaya ala preman ini tadi terus menawarkan jasa transportasi mereka, ke terminal Ubung 15 ribu dan ke Denpasar kena 50 ribu. Tidak sudi memberikan uang kepada orang-orang yang telah memperlakukan kita dengan kurang terpuji, akhirnya aku dan rekan-rekan mencoba berjalan kaki keluar dari terminal tersebut dengan alasan ingin mencari makan terlebih dahulu disekitar sini karena kita merasa kurang sehat dan kelelahan ketika mereka terus menawarkan jasa transportasi mereka saat itu, tentu saja itu hanyalah alibi saja. Singkat cerita kita menggunakan minibus ke terminal Ubung setelah kita menunggu bis lewat di pinggir jalan agak jauh dari lokasi terminal Mengwi ini tadi.

Dari pengalamanku ini tadi, mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kalian para Backpacker lainnya yang ingin ke Bali melalui jalur darat, saranku ketika kalian menggunakan transportasi Kereta Api, turun di stasiun Banyuwangi Baru, kalian berjalanlah sekitar kurang lebih tiga ratus meter ke pelabuhan Ketapang untuk melakukan penyebrangan sendiri. Setelah kalian menyebrang, carilah minibus yang mencari penumpang di sekitar pelabuhan Gilimanuk tersebut, satu hal lagi jangan mudah percaya dengan kernet, pastikan bis yang kalian tumpangi tidak mampir ke terminal Mengwi, akan lebih bagus bila langsung turun di terminal Ubung dan satu hal lagi yang paling penting jangan malas bertanya ke orang setempat tentang transportasi yang akan kamu naiki, usahakan jangan bertanya ke calo atau driver tansportasi setempat, karena tentulah jawaban yang akan kamu dapatkan adalah jawaban yang menguntungkan bagi mereka, bukan kamu! Tetapi akan lebih baik apabila kamu bertanya ke orang setempat atau ke sesama penumpang yang ada di sekitarmu saat itu.

hasil googling kejadian serupa ( 03 Maret 2017 )

Belajar dari hal ini, saya coba googling tentang apa yang aku alami di hari itu, ternyata kejadian tersebut sudah sering sekali terjadi dan sudah banyak artikel yang membahas tentang kejadian serupa, tetapi entah mengapa pemerintah setempat seakan masih tutup mata dan telinga atas kejadian ini, apa memang tidak ada yang berani melapor atau memang hal ini sengaja dibiarkan begitu saja. Saya berharap sih kedepannya terminal tersebut akan menjadi lebih baik lagi apabila memang benar-benar ingin menjadi terminal kedatangan alternatif dari terminal Ubung, karena tentu karena ulah segelintir orang yang tidak bertanggung jawab bisa saja merusak citra Bali di mata para wisatawan baik yang berasal dari domestik maupun internasional. Tetapi dari kejadian ini, aku masih belum kapok untuk traveling ke Bali untuk kedepannya, justru ini bisa jadi pelajaran berharga, karena bagiku indahnya alam dan suasana Bali masih jauh lebih mengenang di hati ketimbang perlakuan para oknum di terminal Mengwi tadi.. Hehehe.. Salam Backpacker!

Sumber : Pengalaman Pribadi

UPDATE BERITA 25 OKTOBER 2017

Bus AKAP Resmi Beroperasi di Terminal Mengwi
Saya cek kembali dari Google hari ini, sekarang Terminal Mengwi resmi menjadi terminal pusat di Bali. Untuk teman-teman backpacker yang masih penasaran bisa langsung googling ke TKP. Besar harapan saya supaya pihak terkait juga terus untuk melakukan sosialisasi kepada setiap pengunjung dan wisatawan yang belum paham dengan kebijakan ini. Hal yang terpenting juga supaya setiap kebijakan juga mengutamakan kepuasan penumpang, jangan sampai ada lagi penumpang yang dibentak-bentak ketika berada di terminal tersebut dan harus ada tindak lanjut juga untuk para petugas bus yang tidak jujur karena setiap nyari penumpang ngomongnya selalu turun di terminal Ubung padahal penumpang diturunkan di terminal Mengwi. Karena mau bagaimanapun juga, berkembangnya suatu pariwisata juga karena wisatawan.
Baca selengkapnya

Saturday, March 18, 2017

Anak muda jangan cuma bisa kritik

Pemuda adalah jiwa suatu bangsa, namun pemuda yang cerdas adalah masa depan bangsa. Seorang muda memang biasanya lebih kreatif, inovatif dan demokratis, tetapi di jaman sekarang ini jarang anak muda memiliki tiga hal tersebut sekaligus.

Mengutip kata bijak yang dipopulerkan oleh Leo Tolstoy yang berkata "Semua orang memikirkan untuk mengubah dunia dan tidak ada yang memikirkan mengubah dirinya sendiri". Benar juga ternyata, kata-kata tersebut mencerminkan generasi muda masa kini pada umumnya. Boomingnya media sosial menjadi suatu jembatan untuk menyampaikan opini secara blak-blakan, misalnya saja dengan memposting status atau gambar yang berupa meme.

Anak muda saat ini memang sangat demokratis, baik itu dalam mengawasi berbagai hal, misalnya saja politik, sosial atau masalah ekonomi. Idealis berpendapat boleh boleh saja, tetapi kritik tanpa solusi bukanlah cerminan dari seorang pemuda yang cerdas. Karena menyampaikan pendapat juga harus berbobot, tidak hanya asbun (asal bunyi). Mungkin hal ini bisa ditanggulangi dengan memperbaiki kebiasaan cepat berbicara namun lambat berpikir, menjadi cepat berpikir namun bijak dalam berbicara.

Tentu untuk bisa melakukan hal tersebut diperlukan kebesaran hati untuk mau mendengar masukan dari orang lain, mau memperluas wawasan dengan membaca atau menonton berita, mau belajar memahami dari berbagai sudut pandang dan tidak gengsi juga untuk belajar dari orang-orang yang ada di sekitar kita saat ini.

Sumber : Joshua Favian
Baca selengkapnya

Friday, March 3, 2017

Jaman semakin canggih, data semakin melimpah namun krisis inspirasi

Di era digital saat ini data apa saja mungkin bisa kita temukan melalui internet, namun apakah semua data yang kita akses lebih banyak manfaatnya untuk hidup kita saat ini? Hmm, mungkin jawabannya tergantung pada diri anda sendiri.

Dari dulu sebenarnya aku orang yang lebih senang baca artikel oline ketimbang beli buku, dulu rasanya gampang banget nyari artikel artikel yang menginspirasi baik itu lewat sosmed, berita online atau dari blog blog orang. Namun jaman sekarang sudah berubah, semakin canggih jaman sekarang segala data sudah mengandung unsur kepentingan pribadi, sehingga informasi yang kita perlukan menjadi lebih sedikit.

Masih ga percaya? aku masih ingat dulu banyak media berita online (ga perlu sebut merk) yang isinya sangat sangat bermanfaat, baik itu tips menjaga kesehatan, gaya hidup dan edukasi yang sederhana namun bermanfaat. Namun sekarang, walau kategorinya masih ada, namun yang lebih ditonjolkan adalah dunia politik yang jujur bisa aku bilang.. sangat.. sangat.. membosankan.. Apalagi bila ada postingan postingannya yang sudah kelihatan jelas tidak lagi netral atau berita yang memiliki unsur kepentingan pribadi dan demi politisasi mindset masa untuk pihak tertentu.

Aku juga ingat dulu pesbuk (plesetan) begitu menarik, tidak hanya sekedar media berkomunikasi mempererat tali silahturahmi namun juga media kita untuk saling memotivasi satu dengan yang lainnya. Tetapi lihat pesbuk sekarang, lebih banyak didominasi oleh berita berita hoax dan status status kebencian. Ga salah pendiri situs tersebut menyumbangkan sebagian besar sahamnya, soalnya ketertarikan orang dengan pesbuk lama lama juga sirna melihat kita sendiri yang merusak gaya hidup dalam bermedsos, apalagi Indonesia menjadi pengguna medsos terbesar dan itu berarti kita menjadi trendsetter dunia dalam menggunakan medsos. Harusnya kita bisa bersikap lebih bijaksana dan dewasa dalam menggunakan medsos dan tidak kampungan.

Kembali lagi ke topik utama, jadi intinya data yang ada di internet semakin melimpah limpah, namun informasi yang kita dapatkan semakin sulit dicari. Mungkin bagi orang-orang yang hobinya menulis seperti aku, kembali membaca buku akan menjadi sumber informasi paling dibutuhkan saat ini ketimbang membaca artikel artikel online yang semakin lama semakin geje.
Baca selengkapnya

Saturday, February 25, 2017

Manusia Setengah Program

Artikel kali ini mungkin lebih membawa anda ke sisi sensitifnya para programmer, karena perlu diketahui meskipun kita mampu bikin aplikasi begini dan begitu, tetapi kita juga manusia yang punya hati yang ga bisa terus terusan begini dan begitu #asik.

Pernah ga ngerasa ketika atasan kamu ngerevisi aplikasi yang kamu buat, dengan menambahkan suatu fitur yang terlihat sangat sangat simpel, namun secara sisten sangat sangatlah rumit? Pastinya pernah dong, tetapi ketika aplikasi sudah jadi, paling responnya biasa biasa saja, mereka tidak paham bagaimana cara kita memikirkan prosesnya, bisa jadi proses nomor dua, tetapi output nomor satu. Tapi terkadang atasan yang tidak paham IT juga menjadi keuntungan tersendiri bagi para programmer dengan prinsipnya yang penting program jalan, tampilan tanpa error, masa bodoh dengan kerapian koding dan alur sistemnya.

Pernah ga kamu nemuin BUG di aplikasi yang kamu buat dan sampai malam masih belum ketemu solusinya? Wihhh, rasanya kaya nyimpen kanker di otak, bikin kepikiran terus, makan jadi ga enak, tidurpun jadi tidak nyenyak, kalau ada masalah dikit jadinya ngelamak (emosian). Udah jangan baper, aku tau apa yang kamu rasakan kok, kita sama sama pejuang koding, tetapi mending ngekode program biar terkadang error tapi ada responnya, daripada ngekode kamu tapi ga direspon respon.. Haha #apaancoba
Baca selengkapnya

Sunday, February 19, 2017

Tidak mau belajar teknologi ? pikir kembali

Sudah beberapa kali saya mendengar langsung cerita dari para driver g*jek atau *ber seputar seringnya mereka mendapat kecaman dari para taksi lokal atau ojek pangkalan. Heran di jaman yang serba teknologi ini masih aja ada orang yang ga mau belajar teknologi. Tentu saat ini konsumen perlu kualitas layanan yang lebih baik, transparan dan cepat, teknologi tentu menjadi jembatan untuk mencapai hal tersebut.

Sebagai orang yang basicnya IT, tentu sangat saya pahami bahwa teknologi dapat membantu atau mempermudah pekerjaan orang siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tetapi seringkali hal ini yang tidak dipahami banyak orang, karena malas belajar dan tetap ingin berada di zona nyamannya dengan mengandalkan cara yang kuno, merasa iri dengan orang lain tetapi tidak ingin belajar menjadi lebih baik dari orang tersebut adalah suatu tanda sifat malas yang sudah sangat susah untuk disembuhkan.

Yah semoga saja dengan bergesernya terus era teknologi ini dari generasi ke generasi, banyak orang semakin melek teknologi dan perkembangan layanan transportasi umum menjadi semakin bagus, sehingga nantinya orang lebih milih naik transportasi umum ketimbang naik kendaraan pribadi, saya yakin hal itu pasti nanti terjadi, tentu saja harus saya sampaikan lagi bahwa teknologi yang akan menjadi jembatannya untuk mencapai cita cita tersebut.

Sumber :
Baca selengkapnya

Saturday, February 11, 2017

Jawaban Aneh Para Cagub Cawagub Saat Debat Final


Tadi malam ada final debat cagub cawagub untuk pemilihan di provinsi DKI Jakarta, seperti biasa dalam debat ini berlangsung sengit dan begitu panas. Setiap calon mengemukakan semua ide dan gagasannya mati-matian di final debat ini, berharap setiap apa yang mereka sampaikan bisa mendapat tempat di hati masyarakat untuk memilih mereka di tanggal 15 Februari nantinya.

Setiap gagasan yang mereka bawakan memang cukup menarik untuk disimak, namun cukup membosankan ketika masuk ke sesi saling tanya jawab antar calon pasangan, pasti yang akan diserang adalah kepribadian masing-masing, bukan visi misinya. Setiap calon mengumbar ngumbar tentang kesantunan, karakter dan kerendah hatian, namun pada kenyataannya banyak sikap-sikap para calon pasangan yang mengeluarkan argumen-argumen yang menurut saya kurang santun walau dibawakan secara halus, karena kesantunan bukan hanya diukur dari cara bicara tetapi juga hal dibicarakan itu sendiri.

Ada satu hal lagi yang konyol menurut saya, ketika pertanyaan terakhir yang sama diajukan kepada setiap calon pasangan cagub cawagub, kurang lebih pertanyaannya seperti ini "Menurut anda apakah sisi positif atau hal yang baik yang ada pada pesaing anda?". Bagi saya ini sungguh pertanyaan yang menarik untuk ditanyakan, karena dalam pertarungan yang sengit seperti ini, pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang menjebak dan memancing ego. Benar ternyata, bukannya menjawab apa sisi positif pesaingnya, namun malah menjawab sisi negatifnya. Hal inilah yang membuat kita justru bisa menilai kepribadian orang itu sendiri dari bagaimana cara dia menilai orang lain. Semakin dia menjelek-jelekan orang lain, justru dialah yang akan semakin terlihat jelek. Salut untuk pertanyaan yang satu ini, begitu smart !

Btw, bagi teman-teman yang ada di Jakarta, jangan lupa memilih ya.. ingat jangan golput, satu suaramu turut ambil bagian dalam menentukan nasib bangsa ini. Salam Indonesia Damai :)

Sumber :
Baca selengkapnya

Friday, January 13, 2017

Gerakan Anti Hoax

 


Beberapa hari terakhir ini media semakin digencarkan dengan berkembangnya gerakan anti hoax yang didukung langsung oleh pemerintah dan kepolisian.

Hal ini tentu saja menjadi langkah yang positif supaya masyarakat menjadi semakin cerdas dalam memilih berita dan tidak cepat termakan isu isu yang kebenarannya sendiri masih simpang siur.

Mengapa berita hoax pertumbuhannya begitu pesat di Indonesia? Karena masyarakat kita cenderung suka menyebarkan isu isu terkini tanpa dicek dahulu kebenarannya, hal yang demikian tidaklah membuat kita seperti memiliki wawasan luas namun pada akhirnya hanya mempermalukan diri sendiri. Belum lagi dari kebiasaan yang kurang baik ini dimanfaatkan orang lain untuk menyebarkan berita hoax demi mendapatkan rating atau traffic website yang tinggi supaya memiliki daya jual yang tinggi pula.

Dari hal ini, saya pun juga ikut mendukung supaya gerakan ini tidak hanya panas di awal, namun bisa terus di gencarkan supaya semua masyarakat bisa terbuka wawasannya akan kebutuhan informasi yang bermutu, berkualitas dan bisa dipercaya.
Baca selengkapnya

Wednesday, December 21, 2016

Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja

Kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja

Sejak kecil kita di doktrinasi untuk kelak bisa menjadi orang yang berhasil, orang yang sukses, orang yang mampu membanggakan orang tua, dan sebagainya.
Sehingga mindset kita sudah terbentuk untuk belajar yang pintar, dapat kerja yang bagus dan menjadi sukses. Hmm.. terkadang saya berpikir saat jenuh, mungkin lebih enak bila seandainya kita tidak lagi bergantung pada sistem dunia ini, bisa keliling dunia kemana saja dengan aman dan nyaman, bisa menikmati makanan dari hasil bercocok tanam, bisa menikmati segala anugerah dan ciptaan Tuhan dan menghabiskan waktu bersama keluarga yang kita sayangi.
Bayangkan saja saat ini, kita belajar membutuhkan sekolah, kita sekolah membutuhkan uang dan kita bekerja untuk mendapatkan uang, uang dicari untuk kebutuhan yang tidak akan ada habisnya.. siapakah yang membuat sistem hidup ini begitu rumit.. hahaha..
Baca selengkapnya

Saturday, October 29, 2016

Demokrasi Tanpa Provokasi

Demokrasi Tanpa Provokasi

Sebentar lagi pemilihan kepala daerah serentak seluruh Indonesia, apakah kamu sudah menentukan siapa pemimpin selanjutnya yang akan memimpin daerah kamu nantinya? Atau kamu masih bingung dalam menentukan pilihan? Wajar saja.. Visi dan Misi yang tidak jelas seringkali membuat kita bingung dalam menentukan pilihan, belum lagi dengan janji-janji palsu.

Belum lagi banyak berita dan sosial media yang membuat mual setiap menjelang pilkada, pasti saja ada isu rasis, isu agama dan pencitraan-pencitraan yang berlebihan, sehingga membuat kita bingung untuk melihat prestasi karena yang terlihat hanyalah sensasi.

Bayangkan saja apabila suatu hari nanti demokrasi bisa berjalan tanpa provokasi, maju pemilihan karena prestasi dan tidak memiliki kepentingan pribadi untuk memperkaya diri sendiri dan partai pendukung, murni memiliki hati mengabdi untuk rakyat.. Hahhh.. mungkin hanya mimpi, tetapi tidak ada yang mustahil sebenarnya apabila kita mau dan didukung dengan sistem yang baik pula.

Bayangkan saja apabila tidak ada black campaign dalam sebuah pesta demokrasi, tidak ada rasa iri apabila saingan terpilih nantinya dan setiap golongan mau untuk rendah hati menerima dan mendukung siapa saja yang terpilih di dalam pilkada serentak nantinya. Mungkin pesta demokrasi nantinya akan lebih damai ya :)
Baca selengkapnya

Saturday, July 9, 2016

Go-Jek Menjadi Alternatif Kendaraan Umum di Kota Malang

Sebulan terakhir aplikasi GoJek mulai ramai digunakan di kalangan pengguna transportasi umum kota Malang. Hampir setiap hari aku berangkat kerja, jaket ijo sudah sering sekali aku lihat lalu lalang dijalanan.

Aku sendiri masih minim pake aplikasi begini, tapi aq baru 3x coba pake GoJek so far ok lah, tidak mengecewakan, ini bisa jadi alternatif kendaraan umum di kota Malang, biar ada persaingan gitu lohhh.. Karena jujur aku males banget kalau disuruh naik taksi atau angkot, tapi ada alasannya.

Untuk angkot sendiri, angkot di kota Malang ini kalau nyetir sering ugal-ugalan, terus sukanya ngambil jalur motor di kiri, sering sampe keluar jalan atau naik trotoar, di lampu merah juga ga sabaran, weleh gimana mau nyaman naiknya, belum lagi kalau udh nungguin penumpang di pojokan, waduh udah panas disuruh nunggu lama pula biasanya. Tapi kalau dari harga sih masih normal lah ya untuk kelas angkot dalam kota.

Baca selengkapnya

Filosofi Permen

Kata orang hidup itu kaya permen, bisa manis, bisa kecut dan bisa asem. Terkadang juga bisa lembut dan juga bisa keras banget.

Tapi kamu ga akan tau rasa permen itu apabila hanya melihat bungkusnya saja, kecuali kamu pernah membukanya dan merasakannya langsung dengan lidahmu.

Seringkali kita hanya memilih sebagian permen yang sesuai dengan rasa yang kita suka, tapi apapun rasa yang kamu pilih bila mengkonsumsi terlalu banyak juga tidak akan bagus.

Tapi terkadang rasanya yang nyangkut di lidah bikin nagih, walau sudah habis wujudnya di mulut. Permen oh permen, betapa berjasanya dirimu, penghibur diwaktu menunggu lama, pengharum saat ingin bertemu kekasih dan penenang disaat kerjaan menumpuk.

Permen ooooh permen.. Apaan sih, tulisan ga penting.. wkwk..
Baca selengkapnya

Friday, April 8, 2016

Membalik Tangan, Berpeluh Menantang Jalanan

Panggil aku Pak Gun, usiaku paruh baya, tiap harinya aku sering mangkal dikawasan lampu merah, bukanlah jalan besar tetapi sering dilalui orang di daerah Blimbing, di kota Malang. 

Setiap pagi sampai siang, aku mengayuh becaku untuk mencari nafkah. Berapapun hasil yang aku dapat setiap harinya harus disyukuri, walau itu cukup atau tidak cukup untuk membayar biaya hidup rumah tangga dan sekolah anak-anaku.

Ketika matahari sudah tepat diatas kepala, aku kembali pulang kerumahku yang sebenarnya cukup jauh dari daerah Blimbing. Aku membawa motor lalu pergi ke perempatan lampu merah di tempat aku biasanya mangkal, aku parkir agak jauh agar tidak mencolok, lalu aku mulai melepas sandalku dan memulai mengamen, menggunakan peralatan seadanya, kalau inget ya bawa ecek-ecek, kalau tidak ya cukup mengeluarkan suara kecil dan diiringi oleh tepuk tangan. Kalau lagi males ya langsung minta minta saja, biasanya target aku kendaraan mobil, soalnya kalau motor lebih jarang yang mau ngasih.

Baca selengkapnya

Tuesday, January 5, 2016

Seorang Pengemis

Entah mengapa saya merasa setiap tahun jumlah pengemis di Indonesia semakin marak saja, walau saya belum mengetahui secara statistik tertulisnya namun dampaknya cukup saya rasakan di kota Malang ini.

Dahulu ketika saya bekerja di daerah ciliwung di kota Malang, saya sempat akrab dengan salah satu pengemis di daerah tersebut, pengemis tersebut berpostur sedikit gemuk dengan kepala botak yang menjadi ciri khasnya.

Ketika pertama kali bertemu, saya kira dia orang gila atau orang yang stress yang sudah tidak ingin bekerja. Namun ketika dia sesekali ngajak saya ngobrol, geleng-geleng saya dibuatnya, ternyata ini orang waras juga. Saat melakukan aksinya dia sering kali tidak memakai sandal, ngamen bermodalkan krincingan dari tutup botol dan menyusuri mobil satu ke mobil lainnya di lampu merah hingga larut malam. Sesekali saya melihat dia pulang menggunakan motor yang diparkir agak jauh dari tempat dia mangkal.

Baca selengkapnya