Selasa, 05 Januari 2016

Seorang Pengemis

Entah mengapa saya merasa setiap tahun jumlah pengemis di Indonesia semakin marak saja, walau saya belum mengetahui secara statistik tertulisnya namun dampaknya cukup saya rasakan di kota Malang ini.

Dahulu ketika saya bekerja di daerah ciliwung di kota Malang, saya sempat akrab dengan salah satu pengemis di daerah tersebut, pengemis tersebut berpostur sedikit gemuk dengan kepala botak yang menjadi ciri khasnya.

Ketika pertama kali bertemu, saya kira dia orang gila atau orang yang stress yang sudah tidak ingin bekerja. Namun ketika dia sesekali ngajak saya ngobrol, geleng-geleng saya dibuatnya, ternyata ini orang waras juga. Saat melakukan aksinya dia sering kali tidak memakai sandal, ngamen bermodalkan krincingan dari tutup botol dan menyusuri mobil satu ke mobil lainnya di lampu merah hingga larut malam. Sesekali saya melihat dia pulang menggunakan motor yang diparkir agak jauh dari tempat dia mangkal.


Sesekali dalam ketika dia ngajak ngobrol, orang tersebut menanyakan kepada saya, "enak kerja di tempat kamu?" kalau engga, pertanyaan lainnya biasanya itu "ga bosen kerja disitu?" begitu dia bertanya sambil ekspresi wajah ngece gitu. Ketika dia sering bercerita tentang penghasilannya sebulan, lagi-lagi saya dibuatnya geleng-geleng, saya tidak menyebutkan nominal, tapi ketika saya pertamakali mendengar hal itu bikin saya minder, namun beberapa saat kemudian itu menjadi motivasi saya untuk lebih baik, masa sih mau kalah dengan pengemis? hehehe

Sejak hari itu saya sedikit memilah milah bila ingin memberikan sedekah kepada pengemis, yah anggap saja menaikan standarisasi pengemis di dalam kamus saya. Untuk pengemis, saya lihat dulu dia memiliki cacat badan, usia tidak produktif atau berpenyakit parah, bila salah satu dari ketiga kriteria itu terpenuhi baru saya masukan dalam golongan layak diberikan sedekah.

Dari hal ini saya juga belajar, ternyata jaman sekarang menjadi pengemis itu bukanlah karena faktor ekonomi saja, tetapi lebih banyak juga karena faktor mental. Oleh sebab itu janganlah kita memiliki mental peminta-minta selama kita masih bisa bekerja dan selama kita masih bisa memaksimalkan talenta yang sudah Tuhan berikan. Bukankah akan lebih tenang di hati apabila kita menafkahi diri sendiri dan keluarga kita dengan uang hasil bekerja secara jujur? karena setiap manusia pasti memiliki hati nurani yang selalu membisikan suara lembut agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di setiap harinya.

Sumber :

Bagikan

Jangan lewatkan

Seorang Pengemis
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Silahkan tulis komentar anda dengan cerdas, sopan dan mudah dipahami. Terimakasih :)