Minggu, 10 Mei 2009

The Crazy Bamboo (Bambu Gila)

Bulan yang lalu kira kira bulan Desember 2008, saya baru saja menonton acara berita di RCTI, kalau gak salah di acara Seputar Indonesia, nah pada saat gambar spesial khasnya saya melihat ada sebuah permainan yang di laporkan wartawan tersebut. Permainan tersebut bernama bambu gila. Di sini lah awal saya tertarik pada hal tersebut dan ingin mengulasnya.

Pada awalnya saya tidak mengerti bambu gila itu apa, dan saya berpikir dalam hati saya, “ masa bambu bias gila sih?” terlintas di pikiran saya. Akhirnya saya baru tahu bahwa permainan khas Maluku yang langka itu adalah suatu permainan menggunakan roh-roh halus untuk menggerakan sebuah bambu.

Permainan ini harus menggunakan 7 pemain untuk memainkannya, dan 1 orang untuk dalang, ataupun si penggerak bambu. Permainan ini di mulai dengan doa dulu untuk perlindungan, lalu memulai ritual dengan mantra-mantra pemanggil jin maupun makhluk halus. Lalu tidak ketinggalan juga menggunakan sesajen untuk menggerakan bambu tersebut. Jumlah pemain bambu gila ini mutlak harus 7 orang.








Berikut lebih jelasnya data yang saya ambil suntingan dari artikel dari Koran kompas Rabu 15 Januari 2003.

BAMBU gila adalah salah satu aset wisata budaya Maluku. Sebagaimana permainan gaib lain, seperti permainan jailangkung, tidak ada kepastian dan kesepakatan kapan atraksi bambu gila lahir dan ditemukan oleh siapa, bahkan pawang bambu gila sesenior Opir (yang sudah 53 tahun menjadi pawang bambu gila) tidak dapat menjelaskan latar belakang dan asal-usul atraksi tersebut. Opir berulang-ulang menyebut, "Dari sananya sudah begitu," katanya, ketika ditanya seputar latar belakang bambu gila.

Sedikit literatur tentang bambu gila yang ada disebutkan, atraksi gaib itu sudah ada sebelum agama Kristen dan Islam tersebar di Maluku. Disebutkan juga, Desa Liang (40 kilometer timur laut Kota Ambon) termasuk salah satu dari sedikit saja kampung bambu gila yang masih ada. Kampung bambu gila yang masih ada lainnya antara lain adalah Desa Mamala di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Di Desa Liang, Opir adalah satu-satunya pawang yang masih ada.

Opir yang lebih piawai memandu atraksi bambu gila daripada menjelaskan asal-muasal permainan gaib itu mengemukakan, dia menjadi pawang sejak berusia 20 tahun. Menurut pengakuannya, dia memperoleh ilmu memawangi bambu gila langsung dari ilham, bukan diajarkan siapa-siapa. Di rumah, katanya, dia menyimpan jimat berupa uang benggol. "Sampai saat ini saya belum menurunkan ilmu kepada siapa-siapa. Nanti, kalau saya mau meninggal, baru saya turunkan kepada anak saya," kata Opir yang tampang dan penampilannya sama sekali tidak seram layaknya aktivis ilmu gaib.

Atraksi bambu gila mutlak memerlukan tujuh pemain. Opir menjelaskan, dia bisa memawangkan bambu gila dengan dua cara, yakni dengan menggunakan kemenyan dan dengan menggunakan tujuh irisan jahe. Kemenyan digunakan dengan cara membakarnya di tempurung kelapa dan "melumuri" sekujur bambu dengan asap kemenyan tersebut. Sementara irisan jahe digunakan dengan cara dikunyah oleh sang pawang, kemudian disemburkan ke tiap ruas bambu yang dikepit erat-erat seorang pemain. Karena ruas bambu berjumlah tujuh dan pemain atraksi tersebut juga berjumlah tujuh, jahe juga harus diiris tujuh, dikunyah dan disemburkan satu per satu.

Menurut Opir, kemenyan ataupun jahe sama-sama berfungsi untuk memanggil jin. "Bedanya, kemenyan digunakan untuk acara besar dan bambunya akan lebih gila, sedangkan jahe untuk acara yang agak kecil. Semburan jahe itu membikin bambu kepedasan dan menjadi gila. Kalau dengan kemenyan, pemain bambu gila bisa setengah jam terpental-pental. Kalau dengan jahe, sebentar saja. Lima belas menit saja pemain sudah sangat kecapekan," paparnya.

Atraksi bambu gila dapat dimainkan kapan saja dan di mana saja. Sehari sebelum dimainkan, demikian Opir, pawang harus memanggil dan mengundang jin-jin untuk masuk ke bambu jenis suanggi (suanggi berarti kuntilanak) itu. Mengenai bambu suanggi andalannya yang dipakainya siang itu, Opir mengaku sudah sekitar 10 tahun bambu tersebut dia gunakan sebagai bambu gila. Saat Kompas meraba bambu tersebut, bambu warna coklat itu masih keras dan tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda lapuk.

"Bambu ini diambil dengan doa-doa, seng (tidak) bisa sembarang tebang begitu saja. Kalau mau dipakai, bambu ini diasapi dupa dan diolesi minyak kelapa. Kalau tidak dipakai, saya taruh di loteng rumah," kata Opir, yang lebih populer dengan panggilan Pak Gani.

Opir kemudian dengan panjang lebar menjelaskan, pertama-tama rombongan jin yang dipanggilnya berjumlah tujuh jin untuk masuk ke tujuh ruas bambu suanggi. Setelah itu, dia memanggil sembilan jin lain yang bertugas menaikturunkan bambu secara liar tak terkendali. Terakhir, rombongan jin yang dipanggil berjumlah 99 jin yang bertugas melempar bambu ke segala arah, menahan dan menolak dorongan ketujuh pemain.

Meskipun berurusan dengan jin, Opir menolak keras jika dikatakan atraksi bambu gila itu adalah permainan sihir. "Pawang-pawang lain mungkin pakai sihir, tetapi bambu gila saya bukan sihir. Tiap pawang beda-beda. Ada pawang yang pakai roh orang tua-tua. Akan tetapi, roh orang tua-tua kalah kuat dengan jin, karena jin itu (martabatnya) lebih tinggi daripada roh orang tua-tua. Pawang yang pakai roh orang tua-tua itulah yang menggunakan sihir. Bambu gila mereka bukan bambu gila sungguhan, tetapi bambu gila main-mainan," kata Opir sedikit berang tanpa sebab yang jelas.

Opir menjelaskan, ada tiga tingkat "kegilaan" dalam permainan bambu gila, yaitu halus, kasar, dan kasar sekali. Semua itu ada di tangan sang pawang. Selain memerintahkan para jin melontarkan bambu ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, atau semakin menggila, pawang juga bertugas menjaga jangan sampai ada penonton yang iseng. "Pawang menjaga agar jangan ada penonton, yang juga punya ilmu, mencoba bikin iseng bambu. Kalau dibikin iseng, bambu bisa diam tidak mau bergerak. Kalau ada yang iseng sama saya, saya seng tanggung jawab kalau bambu saya bergerak sendiri mengejar orang yang iseng itu dan memukulnya sampai mati. Dulu, itu pernah terjadi," kata lelaki tua itu.

Mengenai pemain yang berjumlah tujuh orang itu, tidak ada ritual dan ilmu khusus yang harus mereka lakoni sebelum memainkan bambu gila. "Mereka itu anak-anak muda biasa, anak muda kampung sini. Satu saja syarat yang harus mereka penuhi, yaitu tidak boleh memakai barang dan perhiasan logam selama main bambu gila. Mereka tidak boleh pakai gelang, cincin, kalung, dan sebagainya. Mereka juga tidak boleh bertambal gigi logam. Mereka harus sehat, harus punya tangan dan kaki yang kuat, sebab permainan bambu gila ini sangat berat," jelas Opir.

Permainan ini di pernah di demonstrasikan di pantai Liang, di pasir putih pantai yang berada di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, itu, Abdul Gani Opir, lelaki 73 tahun berkulit legam dengan sejumlah gigi tanggal, berkomat-kamit di pangkal sebatang bambu yang sudah dipeluk erat-erat oleh tujuh pemuda, Senin (9/12) lalu. Seorang pemuda lainnya dengan gencar dan tanpa henti memukul tifa, tambur tradisional Maluku. Opir membaca mantra dalam bahasa Tanah, bahasa tradisional kuno di Maluku. Berhenti berkomat-kamit sebentar, mulut Opir pun menyemburkan kunyahan irisan jahe di ruas pertama bambu suanggi itu.

PANJANG bambu berwarna coklat itu mencapai 2,5 meter dengan diameter sekitar delapan sentimeter. Bambu tersebut terdiri atas tujuh ruas, dengan tiap ruas dipeluk erat-erat oleh seorang pemuda. Opir mengulangi kegiatannya, membaca mantra dan menyemburkan kunyahan irisan jahe di enam ruas bambu lainnya. Setelah itu, Opir berdiri tegak di depan tujuh pemuda yang mengepit ruas bambu di dada masing-masing. Mulut lelaki renta itu kembali berkomat-komit.

Tiba-tiba pawang bambu gila itu berteriak lantang, "Gila, gila, gila!" Seketika ketujuh pemuda secara bersamaan terlontar ke sana kemari, terombang-ambing menahan gerak liar bambu dengan tangan tetap mengepit erat-erat bambu di dada masing-masing. Ketujuh pemuda itu berusaha keras agar pegangan mereka pada ruas bambu masing-masing tidak terlepas. Ketujuh pasang kaki mereka menjejak pasir dalam-dalam, memasang kuda-kuda, menjaga keseimbangan sambil berupaya agar tubuh mereka tidak terpental lepas dari bambu. Atraksi bambu gila pun dimulai, warga Desa Liang bersorak sorai.



Atraksi bambu gila tersebut mengingatkan kita pada Rodeo, perbedaan mendasar antara permainan rodeo dengan bambu gila adalah sumber keliaran obyek yang diusahakan ditaklukkan. Pada permainan rodeo, sumber keliaran kuda adalah naluri si kuda. Ke mana pun gerak liar kuda, hal itu adalah output dari naluri hewaninya. Naluri liar hewani ini akhirnya bisa ditundukkan dengan kelemahlembutan yang dikombinasikan dengan kewibawaan si koboi penunggang. Sementara pada atraksi bambu gila, sumber keliaran gerakan bambu adalah gerombolan makhluk halus yang konon dikendalikan oleh sang pawang.

Source :

www.kompas.com (koran kompas terbitan Rabu 15 Januari 2003)

How is the quality of the content of this Blog?



Bagikan

Jangan lewatkan

The Crazy Bamboo (Bambu Gila)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

2 comments

Tulis comments
avatar
Tabuty
13 Agustus 2009 10.12

Wah wah wah....keren... jadi bambunya bisa gerak sendiri itu yah???
apa gk apa2 tuh permainan? spa tw penunggu bambunya marah...
hahahhaha

Reply
avatar
17 September 2009 17.15

mksih yah bro tas pujiannya hehehe blog loe dandanin jg yahh smunel smu negeri 5

Reply

Silahkan tulis komentar anda dengan cerdas, sopan dan mudah dipahami. Terimakasih :)